RSS

SEKTOR PERTANIAN (23210895)

24 Mar

PENDAHULUAN

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang di lakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkunagannya.

Sebagian besar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4 % dari PDB dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat di pisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan karena sektor-sektor ini memiliki arti penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai masyarakat di wilayah Indonesia.

Berdasarkan BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3 % penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar hanya menyumbang sekitar 17,3 % dari total pendapatan nasional bruto.

Usaha tani ( farming ) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang di lakukan dalam budidaya. Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasarpengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencpai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif ( intensive farming ). Usaha pertanian yang di pandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis.

Sisi yang bersebrangan dengan pertanian industrial adalah pertanian berkelanjutan ( sustainable agriculture ). Pertanian yang berkelanjutan, di kenal juga dengan variasi seperti pertanian organik atau permakultur, memasukan aspek kelestarian daya dukung lahan maupun lingkungan dan pengetahuan lokal sebagai faktor penting dalam perhitungan efisiensinya.

PERANAN SEKTOR PERTANIAN

Pertanian dapat di lihat sebagai sektor ekonomi yang sangat potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional ( analisis klasik dari Kuznets (1964), yaitu sebagai berikut:

 

1)      Kontribusi Produk

Merupakan ekspansi dari sektor-sektor ekonomi lain yang tergantung pada pertumbuhan output di sektor pertanian yang menyangkut mengenai permintaan pasokan makanan yang kontinu mengikuti pertumbuhan penduduk maupun sisi penawaran sebagai bahan baku keperluan produksi di sektor-sektor lain.

Konstribusi produk pertanian terhadap PDB dapat di lihat dari relasi antara pertumbuhan dari kontribusi tersebut dengan pangsa PDB awal dari pertanian dan laju pertumbuhan relatif dari produk-produk neto pertanian dan nonpertanian.

Laju penurunan peran sektor pertanian secara relatif di dalam ekonomi cenderung berasosiasi dengan kombinasi dari tiga hal berikut. Pangsa PDB awal dari sektor-sektor nonpertanian yang relatif lebih tinggi daripada pangsa PDB awal dari pertanian, laju pertumbuhan output pertanian yang relatif rendah, dan laju pertumbuhan output dari sektor-sektor nonpertanian yang lebih tinggi (yang membuat suatu perbedaan positif yang besar antara pangsa PDB dar non pertanian dengan pangsa PDB dari pertanian.

 

 

2)      Kontribusi Pasar

Peranan sektor pertanian lewat konstribusi pasarnya terhadap diverifikasi dan pertumbuhan output sektor-sektor nonpertanian sangat tergantung pada dua faktor penting yaitu :

I.            Dampak dari keterbukaan ekonomi dimana pasar domestik tidak hanya diisi oleh barang-barang buatan dalam negeri tetepi juga barang-barang buatan impor.

II.            Jenis teknologi yang digunakan disektor pertanian yang menentukan tinggi rendahnya tingkat mekanisasi atau moderenisasi di sektor tersebut.

 

3)      Kontribusi Faktor-Faktor Produksi

Ada dua faktor produksi yang dapat dialihkan dari pertanian ke sektor-sektor nonpertanian tanpa harus mengurangi volume produksi disektor pertama.

  • Pertama , L: didalam teori Arthur Lewis di katakan bahwa pada saat pertanian mengalami surplus L yang menyebabkan tingkat produktivitas dari pendapatan riil per L di sektor tersebut rendah akan terjadi transfer L dari pertanian ke industri. Dampaknya kapasitas dan volume produksi di sektor industri meningkat.
  • Kedua , modal : surplus pasar (MS) di sektor pertanian bisa menjadi salah satu sumber I (investasi) di sektor-sektor lain. MS adalah surplus produk (Pp) dikali harga jual (Pp)

Di Indonesia keterkaitan I (investasi) antara sektor pertanian dengan sektor-sektor nonpertanian sangat perlu di tingkatkan terutama untuk mengurangai ketergantungan Indonesia pada pinjaman luar negeri (ULN). Akan tetapi agar peran petani tersebut dapat terealisasikan. Ada beberapa kondisi yang harus terpenuhi terlebih dahulu (Griffin, 1979):

  • Pertama, petani-petani harus menjual sebagian output-nya ke luar sektor.
  • Kedua, petani-petani harus merupakan penabung neto, dan untuk ini pengeluaran mereka untuk konsumsi harus lebih besar daripada produksi mereka.
  • Ketiga, tabungan para petani harus lebih besar daripada kebutuhan investasi (S>I) di sektor pertanian.

 

4)      Kontribusi Devisa

Kontribusi sektor pertanian terhadap peningkatan devisa adalah lewat peningkatan ekspor (X) dan/atau pengurangan tingkat ketergantungan negara tersebut terhadap impor (M) atas komoditi-komoditi pertanian.

Peran sektor pertanian dalam peningkatan devisa bisa kontrakdisi dengan perannya dalam bentuk kontribusi produk. Kontribusi produk dari sektor pertanian terhadap pasar dan industri domestik bisa tidak besar karena sebagian besar produk pertanian di ekspor dan/atau sebagian besar kebutuhan pasar dan industri domesrik di suplai oleh produk-produk impor. Dalam kata lain, usaha peningkatan ekspor pertanian bisa berakibat negatif terhadap pasokan pasar dalam negeri bisa menjadi suatu faktor penghambat bagi pertumbuhan ekspor pertanian.

Untuk menghindari trade-off seperti ini, maka ada dua hal yang perlu di lakukan di sektor pertanian, yakni menambah kapasitas produksi di satu sisi, dan meningkatkan daya saing produk-produknya di sisi lain. Namun, bagi banyak LDCs termasuk Indonesia, melaksanakan dua pekerjaan ini tidak mudah, terutama karena keterbatasan Teknologi, SDM ( Sumber Daya Manusia ) baik yang Terampil maupun yang kasar.

 

 

 

KINERJA DAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DI INDONESIA

1.      Pertumbuhan Output Sejak Tahun 1970-an

Mungkin sudah merupakan suatu evolusi alamiah seiring dengan proses industrialization di mana pangsa output agregat ( PDB ) dari pertanian relatif menurun sedangkan dari industri manufaktur, sektor-sektor sekunder , dan sektor-sektor tersier meningkat.

Selama periode tahun 1990-an pangsa PDB dari pertanian (termasuk peternakan, kehutanan dan perikanan) mengalami penurunan (harga konstan 1993) dari sekitar 17,9% tahun 1993 menjadi 16,4% tahun 2001, sedangkan pangsa PDB dari industri manufaktur selama kurun waktu yang sama meningkat dari 22,3% menjadi 26,0%.

Penurunan kontribusi output dari pertanian terhadap pembentukan PDB ini bukan berarti bahwa volume produksi di sektor tersebut berkurang (pertumbuhan negatif) selama periode tersebut, tetapi laju pertumbuhan output-nya lebih lambat di bandingkan laju pertumbuhan output di sektor-sektor lain. Hal ini biasa terjadi karena secara rata-rata, elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil daripada elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap produk-produk dari sektor-sektor lain seperti barang-barang industri. Jadi, dengan peningkatan pendapatan lajju pertumbuhan permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil daripada terhadap barang-barang industri.

 

Tabel 1.1

Distribusi PDB Menurut Sektor ( Harga Konstan 1993 ): 1993-2001 (%)

 

Sektor 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001
 

-          Pertanian

-          Pertambangan & Penggalian

-          Industri Manufaktur

-          Listrik, Gas, & Air

-          Bangunan

-          Perdagangan,Hotel,& Restoran

-          Transportasi & Komunikasi

-          Bank & Keuangan

-          Penyewaan & real estate

-          Jasa lainnya

 

17,9

9,5 22,3

1,0

6,8

16,8

7,1

4,3

2,9

11,4

 

16,7

9,4

23,3

1,0

7,3

16,8

7,1

4,5

2,9

11,0

 

16,1

9,3

23,9

1,1

7,6

16,7

7,1

4,7

2,8

10,7

 

15,4

9,2

24,7

1,2

8

16,7

7,2

4,6

2,7

10,3

 

15,0

8,8

24,7

1,3

8,2

17,0

7,3

4,6

2,7

10,4

 

18,1

12,6

25,0

1,2

6,5

15,3

5,4

3,3

4,0

8,6

 

19,6

10,0

26,0

1,2

6,2

16,0

5,0

2,8

3,7

9,5

 

17,0

13,8

26,2

1,2

5,9

15,2

5,0

2,8

3,4

9,5

 

16,4

13,6

26,0

1,2

5,6

16,1

5,4

2,8

3,4

9,5

 

 

2.       Pertumbuhan dan Diverisifikasikan Ekspor

Semakin tinggi tingkat pembangunan ekonomi (yang erefleksi dengan semakin tingginya pendapatan per kapita), semakin pentin peran tidak langsung dari sektor pertanian yakni sabagai pemasok bahan baku bagi sektor industri manufaktur dan sektor-sektor ekonomi lainnya.

3.      Kontribusi Terhadap Kesempatan Kerja

Sudah diduga bahwa di suatu negara agraris besar seperti Indonesia di mana ekonomi dalam negerinya masih didominasi oleh ekonomi perdesaan , sebagian besar dari jumlah angkatan / Tenaga kerja (L) bekerja di pertanian.

Perubahan struktur kesempatan kerja ini sesuai dengan apa yang di prediksikanoleh teorimengenai perubahan struktur ekonomi yang terjadi dalam suatu proses pembangunan ekonomi jangka panjang

4.      Ketahanan Pangan

Di Indonesia ketahanan pangan merupakan salah satu topik yang sangat penting, bukan saja dilihat dari nilai-nilai ekonomi dan sosial tetapi masalah ini mengandung kosekuensi politik yang sangat besar.

Di banyak negara ketahanan pangan sering di gunakan sebagai alat politik bagi seorang presiden untuk mendapatkan dukungan rakyatnya. Ketahanan pangan menjadi tambah penting lagi terutama karena saat ini Indonesia merupakan salah satu anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Konsep ketahanan pangan yang di anut indonesia dapat dilihat dari Undang-Undang (UU) No.7 Tahun 1996 tentang Pangan, Pasal 1 Ayat 17 yang menyebutkan bahwa “Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga (RT) yang tercemin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.”

Definisi ketahanan menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1992, yakni akses setiap RT atauu individu untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untk keperluan hidup sehat.

 

 

NILAI TUKAR PETANI

 

1.    Pengertian Nilai Tukar

Nilai tukar adalah nilai tukar suatu barang dengan barang lain. Jadi, suatu rasio harga (nominal atau indeks) dari dua barang yang berbeda

Pertukaran dua barang yang berbeda di pasar dalam negeri dalam nilai mata uang nasional disebut dasar tukar dalam negeri sedangkan di pasar internsional dalam nilai mata uang internasional (misalnya dollar AS) disebut dasar tukar internasional atau umum dikenal dengan terms of trade (ToT). Jadi ToT adalah harga relatif ekspor terhadap harga impor atau rasio antara indeks harga ekspor terhadap indeks harga M.

Pengertian nilai tukar petani (NTP) sedikit berbeda dengan ToT di atas. NTP adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani yakni indeks harga jual output –nya terhadap indeks harga yang dibayar petani yakni indeks harga input-input yang di gunakan untuk bertani, misalnya pupuk.

2.      Perkembangan NTP di Indonesia

NTP berbeda menurut wilayah / provinsi karena adanya perbedaan inflansi (laju pertumbuhan indeks harga konsumen) sistem distribusi pupuk dan input-input pertanian lainnya.

3.      Penyebab Lemahnya NTP

Perubahan NTP disebabkan oleh perubahnan IT dan/atau IB. Penyebab lemahnya NTP dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor penyebab rendahnya IT dan faktor-faktor penyebab tingginya IB.

Dari sisi IT jelas beras berbeda dalam pola persaingan. Karena beas merupakan makan poko masyarakat Indonesia yang artinya selalu ada permintaan dalam jumlah yang besar, maka semua petani berusaha untuk menanam padi atau memproduksi beras saja. Hal ini membuat harga beras di pasar domestik cenderung menurun hingga (pada titik ekuilibirium jangka panjang) sama dengan biaya marjinal, artinya bahwa IT akan sama dengan IB dan berarti keuntungan petani nol.

Dari sisi IB faktor utama adalah harga pupuk yang bagi banyak petani padi terlalu mahal. Hal ini tidak terlallu di sebabkan oleh volume produksi atau suplai pupuk (termasuk pupuk impor) di dalam negeri yang terbatas tetapi oleh adanya distorsi di dalam sistem pendistribusiannya.

 

 

 

KETERKAITAN PRODUKSI ANTARA SEKTOR PERTANIAN DENGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI LAINNYA

 

Salah satu penyebab krisisekonomi di Indonesia tahun 1997 adalah karena industrialiasasi selama Orde Baru yang tidak berbasis pada pertanian.

Sudah banyak pembahasan teoritis mengenai keterkaitan sektor pertanian dengan sektor-sektor ekonomi lainnya yang membuktikan betapa pentingnya sektor pertanian bagi perkembangan dan pertumbuhan output di sektor industri. Keterkaitan antara dua sektor tersebut didominasi oleh efek keterkaitan pendapatan disusul kemudian oleh efekketerkaitan produksi sedikit bukti mengenai keterkaitan investasi.

Bedasarkan data dari bank dunia mengenai petumbuhan output di dua sektor tersebut di sejumlah negara Asia untuk periode 1980-1995, Tambunan (2001) menunjukan adanya suatu korelasi positif (tren positif) antara pertumbuhan output di sektor pertanian dengan di sektor industri manufaktur.

Gambar 1.2

Korelasi Antara Pertumbuhan Output Pertanian

Dan Output Industri: 1980-1995 ( Persen Per Tahun)

    Korea Selatan      
        Thailand Cina
        Vietnam Taiwan
    India Indonesia Pakistan  
  Sri Lanka Bangladesh      
           
 

Myanmar

         
  Filipina        

0                      1                      2                      3                      4                      5                          6

Pertanian tepat di katakan sebagai sektor andalan bagi perekonomian nasional yang berarti juga sebagai motor utama penggerak sektor industri. Konsep dasarnya adalah sebagaimana yang dapat di kutip dari Simatupang dan Syafa’at (2000, hal 9) “Sektor andalam perekonomian adalah sektor yang memiliki ketangguhan dan kemampuan tinggi. Sektor andalan merupakan tulang punggung (backbone) dan mesin penggerak perekonomian (engine of growth), sehingga dapat pula di sebut sebagai sektor kunci atau sektor pemimpin (leading sector) perekonomian nasional.

Industri manufaktur bisa memainkan suatu peran yang penting untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan sektor pertanian sesuai keunggulan komparatifnya contoh industri agro seperti industri makanan dan minuman.

Pentingnya industri agro dalam perekonomian Indonesia dapat dilihat dari sejumlah indikator diantaranya adalah rendahnya kandungan impornya dann ini menunjukan kuatnya keterkaitan produksi agro an pertanian.

Keterkaitan produksi terdiri dari keterkaitan produksi kedepan (KPD)  dan keterkaitan produksi ke belakang (KPB). Selain KPD sektor pertanian juga punya KPB dengan sektor industri : output dari sektor terakhir merupakan input bagi sektor pertama. Bila keterkaitan total (KPD+KPB) dari sektor pertanian paling besar diantara sektor-sektor ekonomi lainnya maka pertanian memiliki potensi sebagai sektor pemimpin dalam perekonomian nasional.

Annex

Estimasi Koefisien-koefisien Pengganda Output , KPB dan KPD

A. Latar Belakang

BPS mulai menerbitkan tabel I-O Indonesia pertama kali tahun 1971. Kerangka dasar yang digunakan pada setiap tabel I-O di usahakan untuk konsistensi satu sama lain. Karena jenis dan mutu data yang di pakai sebagai bahan penyusunan tabel I-O berkembang pada prakteknya mengalami berbagai pengembangan dan penyempurnaan khusunya dalam hal klasifikasi metode penyusunan dan cara penyajiannya.

B. Kerangka Dasar Tabel I-O Indonesia

Secara umum matrik dalam tabel I-O dapat di kelompokan menjadi tiga kauadran (submatriks) :

i.            Kuadran I adalah transaksi antara (barang dan jasa) antarsektor dalam proses produksi. Kuadran ini menunjukan keterkaitan produksi (KPB dan KPD) antarsektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya.

ii.            Isian sel-sel pada kuadran II ada 2 jenis (a) transaksi permintaan akhir (b) komponen penyediaan pada masing-masing sektor produksi .

iii. Isian kuadran III terdiri dari sel-sel NT bruto atau input primer. Isian sepanjang baris pada kuadran III  menunjukan distribusi penciptaan masing-masing komponen NT bruto menurut sektor.

C. Koefisien Input

Relasi antara input dengan output di sebut koefisien input (aij):

aij= xij/ Xj

dan relasi antara input primer dengan output disebut koefisien input primer (vij)

vij= Vij/ Xj

dimana aij + Vij = 1

D. Matriks Kebalikan

Matriks kebalikan yang di turunkan dari suatu tabel I-O merupakan bilangan-bilangan pengganda (multiplier) yang dipakai untuk menghitung dampak dari suatu perubahan dari suatu variabel makro terhadap variabel makro lainnya. Matrik kebalikan di hitung dari kefisien input antara (A) dan erupakan bilangan pangganda antarsektor yang saling mempengaruhi secara beruntun dalam proses produksi

E. Keterkaitan Antarsektor

Dampak dari peningkatan kapasitas produksi disuatu sektor diantaranya:

a)      Dampak terhadap permintaan barang dan jasa yang di perlukan sebagai input

b)      Dampak terhadap penyediaan barang dan jasa hasil produksi yang di manfaatkan sebagai input oleh sektor lain

E.1  Daya Penyebaran

E.2  Derajat Kepekaan

 

Sumber:

 

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Maret 24, 2011 in Tugas Kampus

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: